A Series of Kartini Day Talks — Episode 4: Perkuat Peran Perempuan dalam Demokrasi Bersama Fatayat NU Jakarta Barat
|
Jakarta Barat — Pimpinan Cabang Fatayat NU Jakarta Barat menggelar kegiatan dialog daring bertajuk A series Kartini Days & Harlah 76 Fatayat NU, Peran Perempuan dalam Penguatan Demokrasi Talks. "Perempuan Berani Perempuan Mandiri: Berdaya, Berdampak, Mendunia", yang menghadirkan penyelenggara pemilu serta tokoh perempuan sebagai narasumber, Jum’at (24/4). Kegiatan ini menjadi ruang refleksi sekaligus penguatan kapasitas perempuan dalam menghadapi dinamika demokrasi kontemporer.
Ketua PC Fatayat NU Jakarta Barat, Nurlaelah, dalam pemaparannya menyoroti berbagai tantangan yang dihadapi perempuan dalam demokrasi saat ini. Ia menekankan bahwa perempuan masih menghadapi hambatan struktural maupun kultural, mulai dari keterbatasan akses hingga stereotip gender yang menghambat partisipasi aktif dalam politik.
“Perempuan memiliki potensi besar dalam demokrasi, namun masih dihadapkan pada berbagai tantangan yang membutuhkan dukungan sistem dan keberanian untuk terus berpartisipasi,” ungkapnya.
Sementara itu, Ketua KPU Kota Administrasi Jakarta Barat, Endang Istianti, memaparkan sejumlah data dan fakta terkait partisipasi perempuan dalam pemilu. Ia menyebutkan bahwa keterwakilan perempuan dalam pencalonan anggota legislatif telah mencapai sekitar 37 persen, meskipun masih menghadapi tantangan dalam memenuhi kuota minimal 30 persen secara merata.
Endang juga menyoroti dinamika pemilu di berbagai daerah, termasuk pelaksanaan Pemungutan Suara Ulang (PSU) di Gorontalo yang dipengaruhi oleh tidak terpenuhinya kuota perempuan dalam daftar calon legislatif. Hal ini menjadi catatan penting dalam upaya mendorong keterwakilan perempuan yang lebih optimal dalam sistem politik.
“Pemenuhan kuota perempuan bukan sekadar angka, tetapi bagian dari komitmen untuk menghadirkan demokrasi yang inklusif dan representatif,” tegasnya.
Dari perspektif pengawasan, Anggota Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat, Fitriani, menegaskan bahwa sosok Kartini menjadi simbol perjuangan perempuan yang relevan hingga saat ini. Ia menekankan pentingnya kesetaraan gender sebagai salah satu fokus dalam penyelenggaraan pemilu.
“Kartini adalah simbol keberanian perempuan untuk bersuara. Dalam konteks demokrasi, perempuan harus hadir aktif untuk memastikan proses berjalan adil dan berintegritas,” ujarnya.
Dalam sesi diskusi, berbagai pertanyaan dan pandangan dari peserta turut memperkaya pembahasan. Nurlaila mengangkat isu kegagalan perempuan dalam kontestasi politik dan bagaimana cara menghadapinya. Narasumber menekankan pentingnya penguatan modal sosial dan dukungan finansial sebagai faktor utama dalam keberhasilan perempuan di arena politik.
Selain itu, Dedeh Nurhayati menyoroti peran perempuan dalam demokrasi serta peluang kader Fatayat untuk berkontribusi sebagai penyelenggara pemilu. Menanggapi hal tersebut, narasumber menyampaikan bahwa keterlibatan perempuan dapat dimulai dari partisipasi aktif dalam organisasi, peningkatan kapasitas, serta pemenuhan persyaratan administratif sesuai regulasi untuk menjadi anggota KPU maupun Bawaslu.
Kegiatan ini menegaskan bahwa peran perempuan dalam demokrasi tidak hanya sebagai pemilih, tetapi juga sebagai penggerak, pengawas, dan pengambil kebijakan. Melalui penguatan kapasitas, dukungan kelembagaan, serta keberanian untuk berpartisipasi, perempuan diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam mewujudkan demokrasi yang inklusif, adil, dan berintegritas.
Penulis dan Foto: Ahmad Muhajir
Editor: Humas Bawaslu Kota Jakarta Barat