Membalik Piramida Pengawasan: Menakar Efektivitas Pendekatan Bottom-Up dalam Menjaga Demokrasi
|
Jakarta Barat - Program Pendidikan Pengawas Partisipatif (P2P) Tema 1 mengenai “Teknis Pencegahan Pelanggaran dan Sengketa Proses Pemilu” yang digelar Bawaslu Kota Jakarta Barat kembali memantik diskursus yang mendalam. Salah satu ulasan kritis yang sangat menarik dan menyentuh aspek sosiologi hukum datang dari Sahabat Emmanuel Reza Paleva Liberty.
Lewat jawaban dan catatan kritisnya terhadap materi video pembelajaran, Emmanuel berhasil memotret arah kebijakan Bawaslu yang dinilainya sudah berada di koridor yang tepat, sekaligus mempertegas pentingnya pergeseran strategi pengawasan dari yang semula bersifat atas-ke-bawah (top-down) menjadi bawah-ke-atas (bottom-up).
Melampaui Batas Tahapan: Merawat Kesadaran Demokrasi yang Berkelanjutan
Dalam refleksinya terhadap isi materi, Emmanuel mengapresiasi langkah konsisten Bawaslu yang terus melakukan tindakan pencegahan secara terukur. Langkah-langkah seperti pemetaan Indeks Kerawanan Pemilu (IKP) serta pelaksanaan program pendidikan seperti SKPP (Sekolah Kader Pengawas Partisipatif) dan P2P dinilai sebagai investasi jangka panjang yang krusial.
Hal paling berbobot dari analisis Emmanuel adalah pengamatannya bahwa Bawaslu aktif membangun kesadaran demokrasi di masyarakat di luar masa tahapan pemilu. Ini adalah poin penting. Pengawasan pemilu yang ideal tidak boleh bersifat musiman. Jika edukasi hanya dilakukan saat genderang tahapan pemilu dimulai, maka masyarakat hanya akan melihat pemilu sebagai ritual prosedural lima tahunan. Dengan melakukan giat penguatan literasi di luar tahapan, Bawaslu sebenarnya sedang merawat ekosistem demokrasi agar tetap sehat dan peka terhadap potensi pelanggaran kapan saja.
Catatan Kritis: Membalik Piramida Menuju Pendekatan Bottom-Up
Inti pemikiran paling segar dari Emmanuel terletak pada catatan kritisnya mengenai pola pendekatan penegakan keadilan pemilu. Ia menggarisbawahi bahwa penanganan isu kepemiluan yang kompleks tidak selalu efektif jika dipaksakan secara sentralistik dari atas.
"Sering kali pendekatan yang efektif dan efisien tidak selalu top to bottom (top-down), melainkan sebaliknya. Seperti yang sudah dilakukan saat ini, sehingga pencegahan, pengawasan, dan penindakan itu berangkat dari masyarakat/publik..."
Gagasan membalik piramida pengawasan ini sangat relevan dengan tantangan demokrasi modern. Pendekatan top-down, di mana semua aturan, pengawasan, dan penindakan bertumpu sepenuhnya pada aparatur Bawaslu, memiliki keterbatasan personel dan jangkauan geografis. Sebaliknya, pendekatan bottom-up memposisikan masyarakat sebagai benteng pertahanan pertama (first line of defense).
Ketika kesadaran kolektif di tingkat akar rumput sudah terbangun, masyarakat secara mandiri akan melakukan pencegahan di lingkungannya sendiri. Mereka menyaring hoaks di grup obrolan warga, menolak politik uang di tingkat RT/RW, dan menyelesaikan gesekan antarpendukung secara musyawarah. Peran institusi Bawaslu dan ranah hukum yang lebih tinggi baru masuk sebagai katup penyelamat (safety valve) jika persoalan tersebut berada di luar kapasitas penyelesaian publik.
Mengukuhkan Kemitraan Strategis
Bawaslu Kota Jakarta Barat memandang ulasan dari Sahabat Emmanuel Reza Paleva Liberty sebagai konfirmasi atas arah kebijakan pengawasan partisipatif yang selama ini diperjuangkan. Format gerakan pengawasan yang melibatkan publik secara aktif terbukti menjadi model yang paling efisien dan inklusif.
Melalui alumni P2P, Bawaslu Jakarta Barat berkomitmen untuk terus memperkuat simpul-simpul pengawasan berbasis komunitas. Kita ingin memastikan bahwa demokrasi di Jakarta Barat tidak hanya dijaga oleh barisan komisioner dan staf di kantor Bawaslu, melainkan dijaga oleh mata dan hati jutaan warga yang mendiami kota ini. Karena pengawasan yang paling berdaulat adalah pengawasan yang lahir dari rahim kesadaran masyarakat itu sendiri.
Penulis: Emmanuel Reza Paleva Liberty
Foto: Humas Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat
Editor: Humas Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat