Lompat ke isi utama

Berita

Pimpinan Punya Peran Kunci, Bawaslu Jakarta Barat Bahas Tiga Praktik Membangun Ruang Aman di Tempat Kerja

Tangkapan layar oleh Humas Bawaslu Kota Jakarta Barat

Tangkapan layar oleh Humas Bawaslu Kota Jakarta Barat

Jakarta Barat - Membangun lingkungan kerja yang terbuka dan aman tidak hanya bergantung pada keberanian anggota tim untuk berbicara. Peran pimpinan menjadi salah satu faktor penting dalam menciptakan suasana yang mendorong setiap individu berani menyampaikan informasi, memberikan masukan, maupun mengungkapkan potensi permasalahan.

Hal tersebut menjadi salah satu materi yang disampaikan dalam kegiatan yang diikuti Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat secara daring melalui Zoom Meeting pada Senin (27/7/2026). Dalam paparannya, dibahas tiga praktik utama yang dapat dilakukan pimpinan untuk membangun psychological safety di lingkungan kerja.

Praktik pertama adalah Setting the Stage, yaitu menciptakan pemahaman bersama bahwa pekerjaan dapat dihadapkan pada tekanan dan ketidakpastian. Dalam kondisi tersebut, informasi mengenai risiko maupun hambatan perlu disampaikan sejak awal agar dapat segera diantisipasi.

Pimpinan dapat membuka ruang komunikasi dengan menegaskan bahwa menyampaikan potensi masalah lebih baik dilakukan sedini mungkin daripada menunggu persoalan berkembang. Dengan demikian, anggota tim tidak merasa harus menyembunyikan risiko hanya karena khawatir dianggap melakukan kesalahan.

Praktik kedua adalah Inviting Participation, yaitu secara aktif mengundang anggota tim untuk berpartisipasi dalam pembahasan maupun pengambilan keputusan. Hal ini dapat dilakukan melalui pertanyaan terbuka dan meminta masukan, terutama dari pihak yang memiliki kedekatan langsung dengan persoalan di lapangan.

Pendekatan tersebut memungkinkan pimpinan memperoleh informasi dari berbagai sudut pandang sekaligus memberikan ruang bagi anggota tim untuk menyampaikan pengalaman dan temuan yang mungkin belum terlihat dari sisi pimpinan.

Sementara itu, praktik ketiga adalah Responding Productively. Setiap masukan yang disampaikan perlu ditanggapi secara tenang, kemudian diklarifikasi berdasarkan fakta dan diikuti dengan penentuan langkah tindak lanjut yang jelas.

Respons pimpinan terhadap sebuah masukan menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan. Ketika seseorang menyampaikan persoalan dan mendapatkan respons yang konstruktif, anggota tim akan lebih memiliki keberanian untuk kembali menyampaikan informasi ketika menemukan risiko atau permasalahan lainnya.

Ketiga praktik tersebut menunjukkan bahwa psychological safety bukan sekadar menciptakan suasana kerja yang nyaman, tetapi membangun kepercayaan dan keberanian untuk berkomunikasi secara terbuka.

Dalam konteks kelembagaan, keterbukaan tersebut memiliki peran penting. Informasi mengenai hambatan, risiko, maupun perbedaan pandangan yang disampaikan sejak awal dapat membantu organisasi mengambil langkah secara lebih cepat dan tepat.

Di sisi lain, keterbukaan juga perlu berjalan bersama dengan akuntabilitas. Anggota tim tetap dituntut bertanggung jawab terhadap pekerjaan dan keputusan yang diambil, sementara pimpinan memiliki peran untuk memastikan bahwa proses komunikasi berlangsung secara sehat dan konstruktif.

Melalui pembahasan tersebut, Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat diharapkan dapat terus memperkuat budaya kerja yang mendorong keberanian berbicara, keterlibatan anggota tim, keterbukaan terhadap masukan, serta respons yang konstruktif dari pimpinan.

Pada akhirnya, pemimpin tidak hanya bertugas memberikan arahan, tetapi juga menciptakan ruang agar setiap anggota tim merasa didengar dan memiliki keberanian untuk menyampaikan apa yang perlu diketahui organisasi.

Penulis: Rahardianti Kusumo Astuti

Editor: Lulu Azizah