Bukan Hanya Aman untuk Bicara, Bawaslu Jakarta Barat Dorong Budaya Kerja yang Akuntabel
|
Jakarta Barat - Membangun lingkungan kerja yang sehat tidak cukup hanya dengan menciptakan ruang yang aman untuk berbicara. Rasa aman tersebut perlu berjalan beriringan dengan akuntabilitas agar keterbukaan di dalam organisasi dapat menghasilkan kinerja yang lebih baik dan berkelanjutan.
Hal tersebut menjadi salah satu poin penting dalam paparan mengenai “Psychological Safety + Akuntabilitas” yang diikuti Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat secara daring melalui Zoom Meeting.
Dalam materi tersebut dijelaskan bahwa terdapat empat kondisi yang dapat terbentuk dari kombinasi tingkat psychological safety dan akuntabilitas yang berbeda.
Ketika psychological safety dan akuntabilitas sama-sama rendah, kondisi yang muncul adalah apatis. Anggota tim cenderung tidak peduli, tidak terlibat, dan tidak merasa memiliki tanggung jawab terhadap pekerjaan.
Sementara itu, psychological safety yang tinggi tetapi akuntabilitas rendah dapat menciptakan kondisi nyaman tetapi tidak produktif. Lingkungan kerja memang terasa aman dan menyenangkan, tetapi tidak memiliki arah maupun standar yang jelas untuk mendorong peningkatan kinerja.
Sebaliknya, ketika akuntabilitas tinggi tetapi psychological safety rendah, anggota tim dapat berada dalam kondisi takut dan defensif. Fokus utama akhirnya hanya menghindari kesalahan, bukan mencari solusi terbaik atau melakukan perbaikan.
Kondisi yang dianggap ideal adalah ketika psychological safety dan akuntabilitas sama-sama tinggi. Dalam situasi tersebut, anggota tim dapat berani menyampaikan pendapat, bertanggung jawab atas pekerjaan, belajar dari kesalahan, serta terus meningkatkan kinerja.
Konsep ini menunjukkan bahwa lingkungan kerja yang sehat bukan berarti membebaskan setiap orang dari tuntutan tanggung jawab. Sebaliknya, rasa aman justru perlu menjadi fondasi agar setiap individu berani mengambil tanggung jawab, menyampaikan persoalan, meminta bantuan, dan mencari solusi tanpa rasa takut yang berlebihan.
Bagi Bawaslu, keseimbangan tersebut menjadi relevan dalam mendukung pelaksanaan tugas pengawasan yang membutuhkan kerja sama, ketelitian, komunikasi, dan pengambilan keputusan yang bertanggung jawab. Setiap anggota tim perlu memiliki ruang untuk menyampaikan informasi maupun kekhawatiran, sekaligus memiliki komitmen untuk mempertanggungjawabkan pekerjaan yang dilakukan.
Dengan demikian, psychological safety bukan berarti “bebas melakukan kesalahan”, dan akuntabilitas bukan berarti “takut melakukan kesalahan”. Keduanya perlu berjalan bersama untuk menciptakan budaya kerja yang sehat, profesional, dan berorientasi pada perbaikan.
Melalui pemahaman tersebut, Bawaslu Kota Administrasi Jakarta Barat diharapkan dapat terus memperkuat budaya kerja yang mendorong keberanian berbicara, keterbukaan terhadap perbedaan, kemauan untuk belajar, serta tanggung jawab terhadap hasil pekerjaan.
Karena lingkungan kerja yang ideal bukanlah tempat tanpa kesalahan, melainkan tempat di mana orang berani menyampaikan kesalahan, belajar darinya, dan bertanggung jawab untuk memperbaikinya.
Penulis: Rahardianti Kusumo Astuti
Editor: Lulu Azizah